Friday, July 22, 2011

HAPPINESS AND SADNEES IT’S NOT THE END OF EVERYTHING


BAB 1

“hei, liat tuh! Ketua osis kita lewat. Keren ya.” “kyaaaaa!!! Ketua osis!! Waaaaah kerennya!!!”

Selalu begitu. Setiap hari valentine, selalu aja banyak yang ngasih dia coklat atau hadiah. Setiap salah satu kelas masak membuat makanan di setiap minggunya, pasti dia yang paling bayak mendapatkannya. Jujur aja, aku ini sedikit sebal dengan orang yang populer. Mereka pasti memanfaatkannya untuk macam-macam _ berpacaran karena ingin menghindari dari gossip, menyombongkan diri, pasti ada yang ingin menggencet siswa atau siswi dari kalangan yang biasa aja. Kehidupan yang sungguh membosankan.
“woy! Kok kamu diem aja sih? Malah baca buku. Liat tuh, ketua osis kita dari tadi manggilin kamu terus. Samperin sana! Nanti orangnya keburu pergi lho.” Kata temanku.
“Ada apaan?” tanyaku pada ketua osis.
“Istirahat siang nanti dateng ke ruang osis ya. Ada yang pengen aku omongin. Penting. Dan nggak boleh telat. Kalo udah denger bell langsung ke ruang osis.” Katanya yang langsung pergi gitu aja.
“Teng..teng..teng..teng..” bell istirahat berbunyi
“tok tok tok” ku ketuk pintu ruang osis.
“Masuk.” Jawab seseorang di dalam sana. Aku pun masuk de dalam. Di dalam hanya ada si ketua osis itu.
“Ada apa?” tanyaku langsung pada topik pembicaraan.
“Mau nggak jadi pacarku.”jawabnya langsung pada topik pembicaraan.
“Nggak usah makasih. Udah ya aku laper mau makan dulu. Permisi.” Jawabku tegas.
“Apa-apaan sih?! Pasti dia nembak Cuma buat ngehindarin gossip deh. Tapi bukannya kalo dia pacaran malah jadi gossip.”pikirku.
Tiba-tiba dia menarik tanganku. “Tunggu! Kamu belom jawab pernyataanku. Kamu mau jadi pacarku atau nggak?” tanyanya.
“….”
“Cepetan jawab! Mau apa nggak?!”tanyanya dengan paksa.
“Kan tadi udah kubilang enggak.” Jawabku.
“Kenapa nggak?”
“Udah deh! Masalah ini udah selesai! Kamu nembak aku, dan aku nggak mau. Itu artinya kamu udah aku tolak. Udah ya. Permisi.” Jawabku sedikit dengan nada tinggi.
“eh tunggu..tunggu.. namamu siapa?” tanyanya.
“hahaha…Jangan bikin ketawa deh. Kamu nembak aku tapi nggak tau namaku siapa. Kamu bisa ditertawakan orang lho.”kataku.
“Aku bukannya nggak tau! Aku Cuma lupa.”katanya.
“Fujiwara Yoshiko. Udah ya.” Jawabku sambil lalu.
Beberapa menit kemudian pun bell masuk kelas berbunyi dan akhirnya aku nggak bisa makan siang gara-gara ketua osis SMA ini yang menyebalkan itu. Pelajaran terakhir hari ini adalah bahasa. Arghhh aku benci bahasa.
Zzzzzzzzz……. Tanpa sadar aku pun tertidur di lab audio visual. Kurasa ini sudah sore sekali. Apa sebaiknya aku bangun sekarang ya? Tapi mataku sulit terbuka. “ZZRRAAK!!!” kudengar pintu geser lab terbuka. Sepertinya ada orang yang masuk. Siapa?
“Woy! Bangun! Kelas ini mau kupakai buat rapat! Cepet bangun!” teriak seseorang padaku. Sepertinya aku mengenal suara ini. Aku pun membuka mataku. “Sial!!” batinku. Si ketua osis itu ada di depan mataku.
“Pakai aja ruang osis! Buat apa kalian punya ruang osis tapi nggak dipake!” jawabku.
“Bawel! Ruang osis lagi di beresin.” Kata si Kurokawa sang ketua osis.
“Kenapa nggak diberesin habis kalian rapat aja?!” tanyaku ketus.
“Udahlah, cepet keluar! Dasar menggaggu!” jawabnya.
Aku pun keluar dengan wajah masih sedikit mengantuk dan kesal. “Kurasa dia nggak bener-bener suka sama aku deh. Nggak mungkin kan perlakuannya nyebelin gitu di depanku. Dasar gila.” Pikirku. Aku pun berjalan pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung menaiki tangga rumahku dan kubuka pintu kamarku. Kubanting tasku dan langsung kududukkan badanku ke kursi sambil menghadap komputer untuk menghilangkan stress selama di sekolah. Tentu saja kulupakan dulu masalah dengan si ketua osis itu.




BAB 2

Aku sedang berlari menuju gerbang sekolah yang sudah mau tertutup itu. Lagi-lagi aku terlambat.
“Kamu nggak bosen setiap hari salalu dateng mepet waktu?” kata ketua osis. Asal kalian tau, si ketua osis ini adalah penjaga keamanan gerbang sekolah. Siapapun yang terlambat akan di catat di daftar osisnya. Siapa yang sudah sering terlambat, dia akan di panggil ke ruang guru. Dan aku selalu ada di dalam catatan osisnya.
“Kamu nggak memakai dasi, seragammu kusut, dan rambutmu nggak tertata rapi. Dan kamu terlambat. Kamu niat ke sekolah atau nggak sih?” ceramah si ketua osis.
“Kamu sendiri nggak bosen apa berdiri di depan gerbang sendirian seperti orang gila? Menceramahi siswa-siswi yang terlambat satu persatu. Minggir, aku mau lewat!” kataku sambil langsung berlalu.
“Mungkin sekarang dia udah nggak suka lagi.” Batinku.
“Teng..teng..teng..teng..” Bell istirahat berbunyi. Aduuuuuuuuuh… “pengen ke toileeeeet…” Aku pun berlari menuju toilet. “BRRUKK!!!!!”
“Aww!! Maaf aku nggak sengaja . Aku buru-buru. Permisi.” Kataku.
“Enak aja cuma minta maaf doang. Kamu harus ganti ini dulu!” kata orang yang kutabrak. Saat ku hadapkan kepalaku sedikit keatas untuk melihat siapa yang kutabrak. Yang ada di pikiranku adalah “Seharusnya tadi aku langsung kabur aja.”. yang kutabrak adalah ketua osis.
“Iya Iyaa! Nih uang untuk mengganti jus yang tumpah ke bajumu. Tapi aku harus ke toilet dulu. Sudah ya.” Kataku sambil berlari lagi menuju toilet.
Saat aku berada di dalam kamar toilet, tiba-tiba ada ember berisi air yang mengguyurku dari atas kamar toilet “BYURR!!!”dan sekarang badanku basah kuyub.
“Hahahaha!!! Rasakan! Itu akibatnya karena kamu sudah menumpahkan jus Kurokawa-senpai ke bajunya. Hahaha ” ejek mereka padaku dan pergi meninggalkanku.
Aku langsung menuju ke ruang UKS untuk mengeringkan pakaian dan badanku. Ternyata di UKS nggak ada siapa-siapa. Nggak ada guru UKS atau pun murid yang sedang sakit. Berarti aku harus mengurus diriku sendiri. Kuambil handuk yang ada di lemari UKS dan kuusapkan ke badan dan rambutku. Aku melepaskan baju dan rokku dan menggantinya dengan jaket jersey dan celana olahraga. Awalnya aku berniat untuk kembali ke kelas karena bell masuk sudah berbunyi. Tapi kuputuskan untuk menunggu di UKS sampai bell pulang. Kubaringkan diri ke tempat tidur. Tanpa sadar aku tertidur (lagi).
Aku terbangun karena mendengar teriakan para siswa yang sedang bermain bola di lapangan. Kupikir ini sudah waktunya pulang sekolah, jadi aku langsung pulang. Aku merasa tersentak kaget setelah sampai di depan pagar rumahku dan melihat ada tas sekolahku ada di situ. Aku baru teringat kalau tadi aku pulang tanpa membawa tasku yang tertinggal di kelas. “Tapi siapa yang nganterin tasku? Ah udahlah nggak usah di pikir paling petugas piket hari ini.”
Lalu aku masuk rumah dan mendengar ayah dan ibuku bertengkar. Aku masuk ke ruang keluarga untuk menanyakan apa yang mereka ributkan.
“Ada apa ini? Apa yang kalian berdua ributkan?”tanyaku pada mereka.
Setelah mendengarkan cerita mereka panjang lebar selama hampir 30 menit, kesimpulan dari cerita mereka adalah ayahku menginginkan aku di jodohkan dengan anak teman di perusahaannya. Tetapi ibuku menentang ayahku dengan alasan aku harus memilihnya sendiri. “Pembicaraan nggak mutu” pikirku. Lalu aku meninggalkan mereka berdua yang mulai bertengkar lagi. Aku masuk ke kamar dan langsung membaringkan badan ke kasur setelah ganti baju.
Aku merasa badanku lemas. “Apa aku kecapean? Kepalaku pusing. Padahal aku nggak nyalain ac, tapi kok dingin sih?” pikirku. Tadinya kupikir aku hanya kecapean. Jadi kuputuskan untuk masuk sekolah besok.

BAB 3

“Aneh. Kenapa hari ini aku dateng pagi? Biasanya aku kan selalu telat.” Pikirku dan langsung masuk ke kelasku. Kusenderkan punggungku ke kursi dan kutatap lapangan yang masih sepi dari dalam kelas. Kebetulan mejaku didekat jendela. Beberapa saat kemudian aku melihat ketua osis berjalan di lapangan menuju sekolah. Tanpa sadar dia menghampiri kelasku.
“Kamu mau bertemu siapa? Sayangnya mungkin orang yang kamu cari belum datang. Dan kamu pasti akan lebih menyesal lagi karena cuma aku yang ada di kelas ini. Lebih baik kamu pergi aja.” Kataku ketus.
“Nggak kok. Aku ke sini emang mau ketemu kamu kok. Aku cuma mau ngasih ini.” Jawab ketua osis dengan tenang, tanpa ceramah seperti biasa. Dia memberikanku sebuah tempat pensil dan langsung meninggalkan kelas. “Ini kan tempat pensilku. Kenapa bisa ada di dia?” batinku penasaran.
Aku pun langsung keluar kelas karena penasaran ingin menanyakannya pada ketua osis.
“Tunggu! Apa maksudnya ini? Kok tempat pensilku ada di kamu? Nyolong ya?!” tanyaku.
“Enak aja! Heh! Denger ya. Kemarin kamu udah pulang tapi tasmu masih di sini. Terus waktu aku anter tasmu ke rumahmu tempat pensil di laci mejamu ketinggalan. Aku liat kemarin waktu aku patroli kelas. Jadi aku kembaliin sekarang.” Jawabnya.
“oooh..gitu. Maaf udah nuduh kamu.”
Lalu dia langsung jalan lagi menuju ruang osis tanpa ngomong apa-apa lagi. “Apa kerjaannya selalu di ruang osis ya? Sebentar-sebentar ke ruang osis” pikirku sekilas.
“Makasih ya.” Kataku padanya.
Langkahnya terhenti. Dan membalikkan badannya dan berkata “Iya nggak apa-apa kok.”
Entah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing lagi. Mataku seperti berkunang-kunang. Ruangan yang terlihat seperti menjadi gelap. Badanku lemas. Aku merasa tubuhku terjatuh. “BRUUK!!” aku pingsan di tempat itu juga. Aku nggak mendengar apa-apa lagi. Saat ini yang kurasakan adalah badanku seperti melayang. Sepertinya ada seseorang yang menggendongku. Wangi parfum. “Aku kenal bau parfum ini. Tapi aku nggak ingat siapa.” Aku ingin membuka mata tapi nggak bisa.
Saat tersadar aku sudah ada di ruang UKS. “Siapa yang membawaku ke sini?”
“Kamu udah sadar?” tanya guru baru di UKS yang ada di sebelahku.
“Maaf. Tadi siapa ya yang mengantarku kesini?”tanyaku pada guru baru itu.
“aduh.. maaf saya kurang tau. Tapi sepertinya dia populer di antara para murid. Dia keren. Sepertinya dia baik, sampai mau menggendongmu ke sini.” Jawab guru itu.
“Oh begitu. Makasih Bu. Sepertinya saya sudah baikan. Saya mau menganbil barang-barang saya dan akan langsung pulang.” Kataku lalu keluar ruangan itu.
Aku mengambil tasku di kelas lalu turun tangga menuju loker sepatu, dan mengganti sepatuku. Saat aku keluar menuju pintu gerbang sekolah, aku melihat ketua osis berdiri di sisi kanan pintu gerbang dan di kelilingi lumayan banyak siswi-siswi dari kelas masak. Mereka mau memberikan kue buatan mereka pada ketua osis itu. Aku jalan melewati mereka keluar gerbang. Ketua osis itu melihatku keluar dan mengejarku.
“Kamu udah nggak apa-apa? Masih pusing?” tanyanya langsung padaku.
“Kamu tau tadi aku pingsan?”kataku balik bertanya.
“Jelas aku tau. Kamu pingsan di depan mataku.” Jawabnya.
“Jangan-jangan kamu yang menggendongku ke ruang UKS?” tanyaku penasaran.
“Kenapa? Kamu nggak suka? Kalo emang iya kenapa?” jawabnya ketus.
Aku diam saja mendengarkan karena masih agak pusing.
“Sekarang kamu mau pulang kan? Biar kuantar.” Ajaknya.
“Nggak usah, makasih. Aku nggak apa-apa kok.”
“Nggak apa-apa apanya? Tadi kamu anemia karena kecapean. Mukamu masih pucet gitu.” Paksanya.
Akhirnya aku pulang diantar olehnya karena dipaksa. Sampai di depan rumah aku mengucapka terima kasih padanya dan masuk ke dalam. Sepeti biasa aku langsung masuk ke kamarku. Bermain komputer sebentar, setelah itu beristirahat sambil berbaring di kasur. Beberapa saat kemudian kudengar ayahku pulang. Sepertinya kedua orang tuaku membicarakan suatu hal yang sangat menyedihkan dan mengagetkan. Kudengar ibuku menangis.
Ayahku memanggilku dan aku turun tangga menuju ke ruang keluarga. Ayah dan ibuku menceritakan semuanya. Dan aku menyesal telah mendengarnya. Perusahaan ayahku bangkrut karena sedikit keteledoran salah satu karyawannya. Karena perusahaan ayahku bangkrut, perjodohan nggak penting itu di batalkan. Ibuku masih menangis ketika menjelaskan semuanya.
“Ayah dan ibu akan pindah ke kampung.” Kata ayah.
“Apa aku juga ikut? Lalu sekolahku? Teman-temanku?” tanyaku.
“Enggak, kamu nggak usah ikut ayah dan ibu pulang kampung. Kamu tinggal di sini saja.” Jelas ibuku.
“Aku tinggal sendiri? Di sini? Rumah ini akan terlalu besar kalau aku tinggal sendiri di sini, bu!”jawabku.
“Iya, kamu harus belajar tinggal sendiri. Tapi kamu nggak tinggal di rumah ini. Ayah akan sewakan apartemen untukmu. Dan tentunya ayah akan carikan yang lebih dekat dengan sekolahmu.” Jelas ayah padaku.
Ayah dan ibuku akan berangkat ke kampung halaman besok pagi. Ayah akan memesan apartemen yang murah untukku malam ini. Jadi sepulang sekolah besok siang aku nggak akan ketemu atau tinggal di rumah ini lagi. Setelah berfikir lama, pikiranku menjadi kosong. Aku nggak tau harus bagai mana. Tanpa sadar aku sudah meneteskan air mata. Menangis semalaman.

BAB 4

“Selamat Pagi! Fujiwara!” sapa si ketua osis padaku.
“Kenapa selalu dia yang pertama kali kulihat waktu di sekolah sih?!”
“Ya. Pagi.”jawabku.
Lalu aku menuju ke kelas untuk menatuh tas. Tapi entah kenapa dia mengikutiku terus di belakangku!
“ARRRRGGH!!! Kenapa sih?! Bisa nggak sih kamu nggak ngikutin aku terus?!” bentakku.
“Aku nggak akan pergi sebelum kamu jawab pertanyaanku.”katanya.
“Udahlah. Pertanyaan apa lagi sih? Kamu kurang kerjaan sebagai ketua osis? Minta kerjaan sana ke ruang guru.”kataku sambil menaruh tas di meja.
“Kamu habis nangis?” tanyanya tiba-tiba. Aku tersentak kaget, dan nggak menjawab. Aku hanya diam menunduk. Karena takut kalau aku cerita aku akan menangis seperti kemarin. Lumayan lama dia memandangku tanpa bicara dan hanya menungguku menjawab pertanyaannya.
“Ya udah. Kalau kamu nggak mau cerita sekarang nggak apa-apa. Tapi kamu boleh cerita kapan aja kalau kamu mau.” Katanya.
“Kenapa kamu selalu mau ikut campur urusanku?!” tanyaku dengan sedikit nada tinggi.
“Nggak ada alasan lain. Aku cuma peduli sama kamu.”jawabnya.
“Makasih. Tapi untuk sementara aku nggak mau di ganggu.”
“Baiklah.” Jawabnya dangan tenang lalu pergi.

Teng..teng..teng..teng.. Bell pulang sudah berbunyi. Itu tandanya aku harus pulang ke rumah baruku. Aku sudah diberikan alamatnya olah ayahku. Memang sih nggak begitu jauh dari sekolah. Kalu jalan kaki kira-kira bisa di tempuh hanya 5 menit aja.
Cklek.. Kubuka pintu kamar apartemen itu. Terlihat asing bagiku. Di sana ada dapur, ruang makan, dan ruang tv yang menjadi satu. Serta kamar tidur dan kamar mandi yang terpisah. Kesan pertama aku melihat ruangan ini adalah “ehmm tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. cukup untukku tinggal sendirian.”
Aku segera membereskan barang-barangku dari dalam kardus yang tadi pagi di kirimkan oleh orang tuaku. Yah, ruangan ini jadi lumayan berisi karena barang-barangku. Aku nggak tau malam ini akan tidur nyenyak atau nggak. Aku juga berpikir kalau aku nggak bakalan hidup sendiri kalau aku nggak nyari uang. “aku nggak mungkin selalu mengandalkan orang tuaku. Mungkin besok aku akan mencari pekerjaan sambilan.”

BAB 5

Hari ini, hari Sabtu. Aku akan mendaftar sebagai pelayan di sebuah restaurant. Walaupun gajinya sedikit, tapi aku pasti bisa hidup sendiri dengan gaji itu.
“Soft drink nya satu ya.” Pesan pelanggan.
“Baik. Akan segera di antar.”
Yup! begitulah pekerjaan sambilanku _ melayani pembeli di restaurant ini. Pekerjaanku saat ini bisa dibilang aman. Sampai suatu saat aku bekerja dengan perasaan nggak tenang.
“Kamu Fijiwara Yoshiko kan? Ngapain kamu di sini? Pakai baju seperti itu, lagi.”
“Tidaaaaaaaaaaak!!!!!!!!!” Teriakan hati. Ketua osis di SMA-ku melihatku sedang keja sambilan di sini! Dia juga melihatku melayani pembeli dengan mengenakan pakaian ini! Lalu aku langsung menariknya ke ruang staff.
“A..a…a..apa yang kamu lakukan di sini, Kurokawa?” tanyaku padanya.
“hah? Kamu nanya aku? Nggak salah? Bukannya aku yang seharusnya tanya ke kamu? Ngapain kamu di sini? Kerja sambilan ya?” ketua osis balik bertanya.
“ehm……..ehm……. itu…..” saking kagetnya aku sampai nggak bisa berkata-kata.
“Udahlaaaaaah… ngaku aja.. Tapi kamu tau kan di sekolah kita nggak boleh kerja sambilan? Sepertinya aku harus laporin kejadian ini ke para guru agar kamu di skors.” Gertaknya.
“JANGAN! Pliiiiiis jangan dilaporin ke para guru.. aku nggak tau apa yang akan terjadi pada hidupku kalau kamu laporin.”jawabku.
“Nggak usah berlabihan. Hidupmu nggak akan kenapa-napa kalau orang tuamu masih bisa mencukupimu. Kamu kan termasuk orang yang lumayan kaya. Hidupmu nggak susah kan? Jadi ngapain kamu kerja sambilan di sini? Hah?” katanya yang nggak memikirkan perasaanku.
“Perusahaan ayahku bangkrut!!” bentakku.
Saat itu aku hanya bisa melihat ekspresi wajahnya begitu kaget dan nggak berkata satu patah kata pu. “Kamu puas dengar alasanku, kenapa aku kerja sambilan di sini? Hah?! Terserah kamu mau laporin atau nggak!” aku nggak memikirkan kerjaanku. Aku langsung berlari pulang sambil menangis tanpa mengganti baju seragam kerjaku.
“HEI!! Tunggu aku! Maaf aku nggak tau..!! aku bener-bener minta maaf!!” kudengar teriakan Kurokawa yang berlari mengikutiku. Aku tak memperdulikannya. Aku pulang dan langsung mengunci pintu. Dan langsung tidur.
Besok aku nggak bagaimana aku menghadapi si ketua osis itu. Entah dia laporin atau nggak.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini sepeti biasa aku terlambat. Tapi kali ini dia nggak menceramahiku panjang lebar di pintu gerbang. Melainkan langsung menyuruhku masuk kelas. Ternyata nggak ada yang berubah. Nggak ada satu pun guru yang memanggilku. “kayaknya dia nggak laporin ke guru deh.” Batinku.
Saat istirahat siang aku di panggil oleh Kurokawa sang ketua osis itu di lorong depan kelasku. Saat dia memanggilku, semua siswi yag ada di lorong itu langsung melihatku tajam. Kurokawa memberiku sebuah kertas tanpa berbicara dan langsung pergi. Di kertas itu tertulis “datanglah ke atap sekolah sepulang nanti. Ada yang ingin aku omongin. Kalau kamu masih tetap ingin bekerja datag tepat waktu.”
“Apaan sih?! Aneh!” pikirku.
Terpaksa aku menemuinya.
“Teng..teng..teng..teng..”bell pulang sekolah. Aku langsung menemuinya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Sebelumnya aku mau minta maaf. Kemarin aku bener-bener nggak tau.”
“Iya. Lupain aja masalah itu.”jawabku.
“Kamu masih mau kerja kan?”tanyanya.
“Ya iyalah. Gimana aku mau cari uang. Cari kerjaan tuh susah tau!”jawabku tegas.
“Ok ok. Aku nggak akan laporin kejadian kemarin ke guru. Tapi ada syaratnya.”
“kamu tuh niat minta maaf nggak sih?!” tanyaku kesal.
“Nggak semudah itu lho ngadepin guru-guru di sekolah ini.”jawabnya santai.
“Ya! Ok! Apa syaratnya?”
“Kita pacaran.” Jawabnya dengan tenang.
“Apa?!!”
“Mesih nggak kedengeran? Apa kamu mau aku bilang lewat microphone sekolah?” tanyanya menyebalkan.
“Gila apa? Aku udah cukup menderita deket sama kamu. Apalagi pacaran!” jawabku kesal sambil meniruni tangga dari atap sekolah. Lalu dia menarik tanganku dan memaksaku untuk menjawab iya. Kalau tidak, dia akan laporkan semuanya. Dan ter paksa aku menjawab “Iya.”

BAB 6

“Hari ini aku mau pulang bareng kamu.” Kata Kurokawa.
“Nggak bisa. Aku harus kerja. Kamu pulang duluan aja.” Jawabku.
“Yaudah. Aku tungguin sampai kamu pulang kerja.”
“Aku bakalan lama di sana.” Kataku.
“hemm.. berarti aku harus menunggu lama.” Jawabnya santai.
“ARGH! Sesukamu lah!”
Setelah lama bekerja nggak terasa udah hampir malam. Aku pun mengganti baju seragamku dan segera pulang. Begitu keluar restaurant aku langsung melihat Kurokawa yang yang sedang tertidur di kursi taman di depan restaurant. Kuhampiri dia dan duduk di sebelahnya. Sejenak kupikir untuk apa dia menunggu sampai tertidur seperti ini. Aku memandangi wajah tidurnya agak lama. “Dilihat-lihat kalau lagi tidur mukanya lucu juga.” Kataku pelan seperti berbisik.
“Aku malu kalau kamu pandangi terus seperti itu.”kata Kurokawa. Ternyata dia hanya menutup matanya saja. Bukan tertidur.
“A..AAA.AAPA…YANG..Kamu nggak tidur?!!!! Dasar penipu!” kataku kesal. Aku yang langsung berdiri karena kaget, tersandung kaki kursi dari belakang karena bernajan mundur. “BRUUK!!!”
“HAHAHAHAHAHA!!!!!!!!! Kamu ini sering jatoh ya? Haha…” dia menertawakanku sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku hanya diam menunduk. Mukaku merah padam karena menahan malu. Dia mengantarku pulang sampai ke rumah.
“Kamu pindah rumah?” tanyanya sedikit kaget.
“iya.”
“Dan ini adalah rumah yang kamu tinggali sekarang?” tanyanya lagi.
“iya.”
“Waaaah… berarti kita bakalan sering ketemu nih.”katanya.
“Emangnya rumahmu di deket sini?”tanyaku padanya.
“Sangaaaaaaaat dekat. ” dia menjawab pertanyaanku sambil terus tersenyum lebar.
“Ememangnya rumahmu di mana?” tanyaku memastikan
“Di situ.” Jawabnya sambil menunjuk pintu kamar yang berada tepat di sekelah kamarku.
“HAH! Jangan bercanda! Sudah kamu pulang sana!”
“Baiklah. Sampai ketemu besok. ^_^” katanya ceria sambil membuka pintu kamar itu.
“Hey! Kan aku suruh kamu pulang. Bukan untuk main-main di kamar orang itu. Kamu mau berpura-pura membuka kamar itu pun nggak akan terbuka.”
“Cklek.” Pintu kamar itu terbuka di depan mataku.
“oh tidaaaaak!!!”
“Terserah! Aku nggak peduli.” Aku masuk dan langsung mendanting diri ke kasur.
Tok..tok..tok… Aku mendengar ada yang menetuk pintu balkonku. Lalu aku hampiri pintu balkon itu dan ku buka. “BRAKK!!” tapi langsung ku tutup lagi.
“Mau apa kamu?!” tanyaku pada orang di luar sana.
“Aku hanya mau mastiin kalo kamu aman-aman aja.”
“Dasar gila! Sudah, aku mau tidur!”
“Selamat tidur.” si ketua osis itu emang udah gila. Dia sampai menyebrangi pagar pembatas balkon hanya untuk itu.
Tiba-tiba telfon berbunyi kring…kring…kring…kring…
“Halo..”
“Ya halo..apakah saya bicara dengan Fijiwara Yoshiko?”tanya orang di seberang sana.
“Iya, ini dengan saya sendiri. Ada apa ya?”
“Maaf, saya harus menyampaikan berita buruk pada anda.”
“Berita apa ya?” aku bertanya dengan suara sedikit bergetar karena takut.
“Orang tua anda baru saja meninggal dalam kecelakaan kemarin.”
“Nggak! Kamu pasti bohong!” kataku nggak percaya.
“Maaf, tapi saya di perintah nenek anda untuk mengabari anda.”
“Nggak mungkin!!!” bentakku.
Karena aku terus berkata menandakan bahwa aku nggak percaya. Orang itu pun menyuruhku untuk berbicara langsung dengan nenekku. Begitu mendengar suara nenek yang menjelaskan kejadian tersebut tangisku langsung meledak. Aku terus menangis tanpa menutup telfon yang sudah terputus. Aku benar-benar nggak percaya dengan apa yang aku dengar.
Ternyata Kurokawa masih berada di balkon. Kurokawa yang mendengar tangisku di dalam perlahan membuka pintu balkon dan melihatku terbaring di lantai sambil menangis. Saat itu aku hampir tak sadarkan diri. Kurokawa saat itu nggak banyak bicara. Dia hanya memelukku sebentar berusaha menenangkanku, setelah itu dia menuntunku menuju kamar dan membantuku berbaring di kasur yang masih dalam keadaan menangis. Di mengusap kepalaku lalu keluar kamar dan kembali ke tempatnya.
Saat aku terbangun ternyata hari sudah siang. Dan akhirnya aku nggak sekolah. Kulihat ada kertas kecil di atas meja dekat tempat tidurku.
“Aku sudah buat sarapan tadi pagi-pagi. Aku letakkan di depan pintu masuk. Hari ini aku akan cari alasan kamu nggak masuk. Aku nggak tau apa yang bikin kamu kayak gini. Yang penting istirahat aja. Jangan sampe kecapean. Kalau ada apa-apa bilang aja. Kurokawa Yukito.”
Tanpa sadar aku meneteskan air mata lagi. Lalu aku keluar untuk mengambil makanan yang sudah di buatkan Kurokawa. Dia buatkan aku bubur. Masih sedikit hangat. “Ternyata di nggak semenyebalkan yang kukira. Dia baik juga.”batinku. Aku makan bubur itu perlahan. Badanku masih lemas sahabis menangis semalaman. Setelah kuhabiskan makananku langsung ku cuci dan kembali ke kamar. Aku mencoba untuk menutup mataku tapi nggak bisa. Beberapa lama kemudian ada yang memencet bel rumahku. Ting..tong…ting…tong… lalu kubukakan pintunya. Kurokawa yang datang.
“Bagaimana keadaanmu? Udah baikan?” tanyanya.
“Aku nggak tau. Masih sedikit lemas. Dan sesekali masih merasa ingin menangis. Maaf udah ngerepotin.” Jawabku.
“Nggak apa-apa kok. Aku nggak ngerasa direpotin.” Katanya.
“udah ya.mendingan kamu pulang. Aku mau tidur lagi.”
“Ok. Habis ganti baju nanti aku ke sini lagi buat liat keadaanmu.”katanya lagi.
“argh. Terserahlah.” Jawabku sambil menuju kamar untuk tidur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat jam ternyata sudah jam 21:30. Aku keluar kamar untuk mengambil minum. Aku malah melihat si Kurokawa bodoh itu berbaring tertidur di sofa ruang tengah. Dan di meja ada beberapa buku anggaran osis yang ia bawa ke sini. “Ternyata dia benar-benar ke sini dan menjaga rumahku selagi aku tidur.” Pikirku. Lalu aku mengambil air minum di dalam kulkas dan menuangnya ke dalam sebuah gelas.
“Kamu udah bangun?” tanyanya tiba-tiba di belakangku.
“aa.. iya. Kamu udah dari tadi tidur di situ?” tanyaku.
“ah iya. Kalo kamu udah bangun aku mau pulang. Oh iya. Tadi aku buatkan surat izinmu untuk 3 hari, jadi besok dan lusa kamu nggak usah masuk. Tenangkan dirimu dulu. Aku pulang ya.”katanya.
“Boleh aku cerita sesuatu?” tanyaku.
“cerita? Cerita apa?”
Saat itu kuceritakan semuanya padanya. Sesekali aku menangis di bagian yang menyedihkan. Dia terus mendengarkan ceritaku sampai selesai. Kucurahkan kesedihanku padanya. Dia hanya berkata “iya” atau “oh begitu” saja. Dia mendengarkan tanpa berkomentar apapun.
“Udah selesai ceritanya?” tanyanya.
“iya, udah. Makasih udah mau dengerin.”
“sama-sama.”
“kenapa kamu mau peduli sama aku? Padahal kan aku bukan siapa-siapamu.” Tanyaku.
“oh. Itu kan karena aku suka kamu. Hahaha kamu lupa ya? Kamu kan udah jadi pacarku.”jawabnya.
Aku terdiam sejenak mendengar jawabannya.
“pacar? Ini paksaan namanya.”
“Tapi aku mau jadi pacarmu. Sudah ya kamu kan harus tidur dan istirahat. Aku pulang ya, sudah malam. daahh”.
“dasar aneh.” Kataku pelan.


BAB 7

Hari ini aku sudah mulai masuk sekolah lagi. Selama tiga hari nggak masuk sekolah menenangkan diri perasaanku jadi lebih tenang.
“Pagi! Yoshiko-chan! Kita berangkat sekolah bareng ya.” Kata Kurokawa saat aku masih di depan pintu keluar rumah.
“Chan? Apaan sih?! Kamu juga manggil namaku.”
“Emang kenapa? Ada yang salah sama namamu dan kata ‘chan’? nggak kan? Nih. Aku pacarmu. Wajar dong kalau aku manggil namamu pakai ‘chan’. Kamu juga boleh kok manggil namaku.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.
“Nggak mau! Udah, aku mau berangkat. Kita berangkat sendiri-sendiri ya.”kataku.
“oh iya. Hari ini aku mau melapor ke guru-guru kalau hari ini kamu nggak mau manggil aku dengan namaku. Dan kamu nggak mau berangkat bareng aku.” Katanya sambil tetap tersenyum.
“ARGH!!! OK!OK! KITA BERANGKAT BARENG! YUKITO! YU-KI-TO!” jawabku dengan kesal.
Akhirnya kami berangkat ke sekolah bersama. Yukito yang berjalan dengan tampang tetap tersenyum gembira. Dan aku berjalan dengan hawa pembunuh. Saat kami sampai si halaman sekolah, sepertinya semua siswi melihatku tajam. Kelihatanya mereka nggak suka kalau aku ada di dekat ketua osis.
“Yukito-chan. Aku ke ruang osis dulu ya. Mau ngembaliin aknget osis dulu. Tenang aja, nanti aku balik lagi kok.” Katanya.
“Mendingan kamu nggak usah balik lagi.” Balasku.
“Jangan malu-malu.. heehe daaaaaaah!!!”
Saat Yukito pergi keruang osis aku langsung menuju ke loker sepatu untuk mengganti sepatuku. “SRRAKKK!!!” sepertinya aku di kerjai oleh siswi yang lain. Banyak sekali sampah kertas di lokerku. Ini pasti karena aku dekat dengan si osis bodoh itu.
“Bisa bicara sebentar Yoshiko-san?” kata salah satu kelompok siswi yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“Ada apa ya? Kenapa harus ngomong di halaman belakang sekolah? Emangnya rahasia?” tanyaku pada mereka.
“Ya. Sangat rahasia. Ini tentang ketua osis kita.” Jawab mereka.
“ooh. Kalian mau menyatakan perasaan kalian, tapi nggak berani? Terus kalian mau minta tolong aku buat nyampein ke ketua osis itu? Maaf ya. Aku nggak mau berurusan sama hal kayak gitu.” Jawabku. Mendengar jawabanku mereka sepertinya jadi marah.
“HEH! Nggak usah pura-pura bodoh deh! Bilang aja kalau kamu mau monopoli dia kan?! Kalau kamu nggak mau berurusan sama kita, mendingan kamu nggak usah deket-deket lagi sama ketua!” setelah mereka marah padaku, mereka mendorongku ke tembok. Merusak dasiku, mengacak-acak rambutku, menampar pipi kananku, menendang lututku dan menyiramku dengan air keran.
“HEY!!! APA-APAAN INI! APA YANG KALIAN LAKUIN?!” teriak ketua osis yang melihat kejadian ini. Para siswi itu langsung kabur dan meninggalkanku.
“Yoshiko! Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit? Ada yang luka nggak?” tanya Yukito panik.
“Nggak apa-apa kok. Cuma perih sedikit.” Jawabku pelan.
Yukito yang melihat lututku berdarah dan ujung bibirku sedikit berdarah bekas tamparan dan basah kuyub langsung menggendongku ke ruang UKS. Lagi-lagi UKS sepi. Guru pembinanya sedang cuti. Dia menyuruhku duduk di kursi. Dan dia mngambilkan obat-obat antiseptic. Lukaku di bersihkan olehnya dengan air. Lalu di oleskan obat semacam salep ke lututku dan ujung bibirku. Perih rasanya.
“Apanya yang nggak apa-apa?! Kalau sampe berdarah kayak gini namanya kenapa-napa!” dia marah padaku. Aku hanya diam mendengarkan sambil menahan rasa sakit.

Setelah selesai, luka di lututku di beri sedikit perban untuk menghentikan pendarahan. Waktu pulang sekolah dia mengantarku pulang. Dari perjalanan sampai rumah kami nggak saling bicara. Dia hanya menggandengku. Aku nggak berani menatap mukanya. Aku jadi ingin nangis.

“Kita nggak usah pacaran lagi.” Dia bicara tanpa menatapku.Kata-katanya membuatku kaget.
“eh?”
“Aku nggak mau kamu jadi susah.” Lalu dia pulang begitu saja.
Aku masuk rumah dengan pikiran kosong. “Aku sama sekali nggak suka dia. Tapi kok? Aaah ngapain di pikirin sih?” lalu aku mengganti perban dan langsung tidur.




BAB 8

Dua hari lagi akan di adakan ujian kelulusan. Aku harus menyiapkannya dari sekarang. Karena hari ini hari sabtu, besok hari minggu dan lusa adalah hari H. Aku harus bekerja keras. Aku belajar mulai dari jam 19.45 sampai dengan 02.50, rasanya capek banget. “Tidur ah, udah malem.” Malam itu aku berusaha untuk tidur tapi… “Ngomong-ngomong udah lumayan lama aku nggak ketemu Yukito. Eh. Kurokawa. Aku nggak boleh lagi manggil namanya. Aku bukan pacarnnya lagi. Walaupun dipaksa sih.” Tanpa sadar setiap malam aku jadi mikirin dia.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini upacara kelulusan kami semua lulus. Semua bersenang-senang. Aku juga begitu. Aku masih merasa senang sampai suatu saat ada yang terjadi pada diriku.
“BRAKK!!!!!!” saat aku menyeberangi jalan di zebracross ada mobil yang masih melaju. Sebuah kecelakaan pun terjadi di tempat itu. Kurokawa yang melihatku langsung berlari ke arahku. Pengelihatanku kabur. Tubuhku mati rasa. Aku hanya bisa mendengar sekilas seseorang yang memanggil namaku. Kudengar ada suara mobil ambulans. Kurasakan detak jantungku melemah. Pendarahan terlalu banyak. Aku hanya bisa mengedipkan mata. Nggak ada anggota tubuhku yang bisa kugerakkan selain kelopak mataku. Pengelihatanku menjadi gelap. Sangat gelap. Ketakutan menjalar keseluruh tubuhku.
Saat tersadar aku sudah berada di sebuah kamar perawatan di rumah sakit. Aku merasa ada yang menggenggam tanganku. “Siapa?” Saat kulihat, Kurokawa ada di sampingku dan tertidur. Di saat itu juga aku baru sadar kalau aku menyukainya.
“eh? Kamu udah bangun?” tanya Kurokawa yang baru saja bangun. Aku hanya bisa diam dan melihat matanya. Air mataku meleleh saat itu juga.
“Kukira aku akan menyusul orang tuaku…” kataku sambil tetap menangis. Kurokawa hanya diam tertunduk sambil menggenggam erat tanganku.
“Permisi.” Dokter datang ke ruanganku.
“apakah ada orang tua patien ini?” tanya sang dokter.
“maaf, nggak ada.” Jawab Kurokawa.
“apakah anda yang membawanya ke sini?”tanyanya lagi.
“Iya.”
“Bisa kita bicara sebentar?” kata dokter sambil berjalan keluar bersama Kurokawa.
Tadinya Kurokawa nggak mau ngasih tau apa yang ia dan dokter bicarakan. Tapi setelah aku memaksa, dia akhirnya mengatakannya.
“Karena kecelakaan kemarin, ada beberapa tulang belakangmu yang patah. Mungkin akan di adakan operasi untuk penyembuhan. Tapi ada biaya yang harus dibayar, dan itu mahal. Tapi kamu nggak usah khawatir. Setelah bernegosiasi sama dokter tadi, dia mau memberikan keringanan dalam biaya. ”
Aku terus mendengarkan. Selama seminggu aku di rawat di rumah sakit. Karena aku sudah sering nggak masuk, jadi aku di pecat dari pekerjaanku sebagai pegawai restaurant.
Sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit. Punggungku terkadang masih terasa ngilu.
“Kamu tenang aja. Aku bakalan ngerawat kamu sampe sembuh kok. Tapi kamu harus jadi pacarku lagi.” Kata Kurokawa.
“eh?”
“ehmm…. Bukan itu maksudku. Maksudnya, kalau aku jadi pacarmu, itu akan lebih mudah ngerawatnya. Gitu. Tapi itu juga kalau kamu mau. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa kok.” jawabnya malu.
“Iya boleh kok.”
Mendengar aku menjawab “iya”, mimik mukanya langsung berubah menjadi senang. Lebih terlihat senang dari yang dulu. Haha.
“Kamu panggil namaku lagi, ya.” Kata Kurokawa.

“Yukito!” jawabku.
“BAGUS!!!”
“Aku juga panggil namamu, ya. Yoshiko-chan.” Kata Yukito.
“Iya. Tapi nggak usah pake ‘Chan’. Yoshiko aja.” Kataku membenarkan.
“ah. Iya iya. Yo-shi-ko.”
Setelah lama nggak berhubungan, kita ketemu dalam pertemuan yang nggak terduga yang membuat kita jadi terhubung kembali. Aku merasa kallimat ini berlebihan. Haha. Akhirnya kami kembali seperti dulu. Walaupun sedikit berbeda. Dulu kami pacaran hanya memikirkan satu pihak saja. Tapi sekarang kedua pihak saling menyukai. Sedikit aneh rasanya.



BAB 9

Yukito tinggal sendirian. Sama denganku. Tapi dia sanggup mengurusku setiap hari. Datang pagi-pagi mengantar sarapan. Dan saat makan malam dia juga datang ke rumahku untuk membuatkan makan malam. Dia lebih pintar memasak dari pada aku. Karena dia sering ke rumahku dan rumah kami mepet jadi seperti rumah sendiri. Yah.. selagi itu masih dalam batas wajar, masih kuperbolehkan dia masuk rumahku. Tapi tidak untuk masuk kamarku.
Hampir setiap sabtu dan minggu kami pergi jalan-jalan keliling kota mencari hiburan agar aku nggak bosen tinggal di rumah terus. Aku senang bisa bersenang-senang dengan Yukito. Makan makanan jalanan yang enak dan murah, bermain di taman hiburan atau kebun binatang, pantai, gunung dan masih banyak lagi. Kukira aku akan selamanya merasakan kebahagiaan itu. Tapi penderitaanku masih terus berlanjut. Sampai suatu hari aku datang ke rumah sakit untuk memeriksa tulang punggungku.
“Ada sesuatu yang aneh di dalam tulangmu. Sepertinya ini karena kecelakaan yang terjadi waktu itu. Karena tulangmu patah, ada semacam virus atau bakteri yang dengan mudah masuk ke dalam bagian lemah tulangmu.” Kata dokter.
Aku nggak berani bilang ke Yukito karena takut dia khawatir. Aku takut merepotkannya lebih dari ini. Waktu itu dia udah bekerja keras mencari uang untuk biaya operasiku. Walaupu sebagian sudah di tangani dokter, tapi itu nggak sedikit. Dan akhirnya kuputuskan untuk tetap merahasiakannya.
Sampai saat ini aku tetap menjalani hari-hariku seperti biasa dengan Yukito. Mungkin dengan sedikit kerahasiaan yang menyelimuti pikiranku.



Satu bulan kemudian aku kembali ke dokter untuk mengetahui apa yang akan terjadi padaku.
“Sedikit berat untuk mengatakannya, sebenarnya virus yang berada di dalam tulang anda sudah menyebar di tubuh anda dan ini akan fatal akibatnya kalau tidak di operasi sesegera mungkin.” Kata dokter itu.
“Apa yang akan terjadi padaku kalau aku nggak di operasi, dok?”tanyaku.
“Kemungkinan kamu akan terkena kanker tulang belakang. Karena sudah menyebar, kemungkinannya hanya 8%” Jawab dokter itu.
Aku yang mendengarnya langsung merasa tubuhku lemas. Aku nggak tau lagi apa yang harus kulakukan. Kalau begini aku harus tetap bertahan hidup dan mencari uang untuk operasi. “Tapi gimana caranya supaya Yukito nggak tau?” itu yang langsung terlintas di pikiranku.
Lalu aku teringat kalau aku masih punya sedikit uang dari hasil kerja sambilanku waktu itu. Kalau nggak salah ada Rp 200.550.000,-
“kira-kira berapa biaya operasinya dok?” tanyaku.
“sekitar Rp 100.000.000,- . apa kamu masih sanggup membayarnya?” kata dokter.
“ehm… kalau begitu akan saya pikirkan dulu bagaimana kedepannya,dok. Makasih, saya permisi dulu.”

BAB 10

Aku semakin sering berfikir tentang penyakitku. Sepertinya penderitaanku nggak ada habisnya. Semakin dipikir aku semakin takut melakukan operasi itu.
Ting..tong..ting..tong.. bunyi bell rumahku.
“halo. Kamu udah makan malem belum? Gimana? Tadi kamu ke dokter,kan? Kata dokter apa?” oooh ternyata Yukito.
“belum. Tadi kata dokter paling nggak satu atau dua bulan lagi udah sembuh total kok.” aku terpaksa bohong karena takut dia terlalu khawatir.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah hampir satu setengah bulan aku menyembunyikan penyakit ini dari Yukito. Karena dia satu-satunya orang yang masih ersisa untukku di dunia ini. Karena aku pikir “nggak apa-apa kalau aku mati. Hidup Yukito masih panjang. Dia pasti masih bisa nyari cewek lain selain aku.” Kata-kata itu yang selalu ada di benakku.

“Kita putus ya.” Kataku
“Kenapa? Apa yang ngebuatmu mikir kayak gitu? Memangnya kamu udah nggak percaya lagi sama aku?”.
“Bukan gitu. Aku cuma pengen kamu nggak ngerasa nyesel udah pacaran sama aku.” Jawabku.
“Kamu tuh aneh! Apaan sih?! Main putus aja. Pokoknya aku nggak mau!”
Dengan ekspresi muka yang harus sedikit memaksa untuk senyum, aku pun berkata “Apa kamu yakin buat nemenin aku sampe bebanku berakhir?”. Mendengar kata-kata itu Yukito merasa tersentak.
“Ada apaan sih? Kok kamu pasang muka kayak gitu?”. Karena saking penasarannya Yukito terus menanyakannya padaku dan membuatku menjawabnya.
Mengetahui kalau aku menderita kanker tulang belakang dan harus di operasi dengan kemungkinan hidup 8%, Yukito pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Kalau kamu pengen putus, putusin aku sekarang. Aku nggak pengen kamu nyesel. Lebih cepat lebih baik. Sebelum aku mati.”. mendengar kata ‘mati’, Yukito pun langsung menampar pipi kiriku menandakan ia nggak mau putus dan akan terus menemaniku.
Sayangnya dengan melakukan cemoteraphy dan operasi pun tidak berhasil. Waktuku hanya satu minggu.
saking kesalnya, Yukito bertanya dengan nada tinggi,
“Kenapa kamu nggak ngomong dari awal?! Kenapa nggak aku aja yang ngalamin ini?!”.
Dengan tenang aku menjawab “Nggak pa-pa kok. Mungkin ini emang jalanku.”
“Kalau kayak gini aku nggak akan bahagia!”. Sambil tersenyum aku berkata
“Bukan. Kamu salah. Setiap orang punya jalan menuju kebahagiaannya masing-masing. Ada yang langsung, ada juga yang ngalamin penderitaan dulu.”
“Tapi kamu.....” Yukito nggak melanjutkan kata-katanya.
Dengan tenang sambil menahan rasa sakit yang aku rasakan, aku berkata “Tenang…aku cuma harus hidup sedikit lebih susah dari orang lain.”
“ada tujuh pertanyaan yang harus kamu jawab jujur.”katanya. tapi aku hanya bisa tersenyum.
“do i ever cross your mind?” tanyanya.
“no” jawabku.
“do you like me?”tanyanya.
“no”
“do you want me?”tanyanya.
“no”
“would you cry if i left?”tanyanya.
“no”
“would you live for me?”tanyanya.
“no”
“would you do anything for me?”tanyanya.
“no”
“choose--me or your life?”tanyanya.
“my life”
Yukito hanya tertunduk diam mendengar jawabanku. Lalu aku berusaha untuk menjelaskan atas jawabanku.
"the reason you never cross my mind is because you're always on my mind
the reason why i dont like you is because i love you
the reason i dont want you is because i need you
the reason i wouldnt cry if you left is because i would die if you left
the reason i wouldnt live for you is because i would die for you
the reason why im not willing to do you anything for you is because i would do everything for you
the reason i choose my life is because YOU are my life"

Setelah puas mengungkapkan semuanya, perlahan aku menutup mataku. Akhirnya aku pun nggak sanggup untuk hidup lebih lama.