Friday, July 22, 2011

THE BLACK JACKET

BAB 1
Kim Rae Yoo adalah namaku. Aku bersekolah di salah satu SMA yang nggak terlalu bagus di Seoul. Karena masalah ekonomi keluarga aku jadi lebih memilih sekolah nggak terlalu mahal biaya seklahnya. Aku termasuk anak yang sedikit pendiam di sekolahku. Karena pendiam aku jadi nggak punya banyak teman. Untuk mengisi hari – hariku yang tanpa teman itu dengan menggambar, menggambar, dan menggambar.
Hari ini terasa dingin karena hujan turun. Kalau hari sedang hujan aku jadi merasa malas dan hanya ingin di rumah. Tapi hari ini berbeda dari hari yang lain. Entah kenapa hari ini aku merasa bosan jika hanya diam di rumah. Aku pun memutuskan untuk pergi keluar jika hujan sudah reda.
Sekitar kira – kira satu jam hujan pun reda. Aku pun langsung keluar rumah. Karena aku pikir aku bisa menggambar suasana di sekelilingku, jadi aku membawa beberapa peralatan gambar. Tanganku penuh dengan buku gambar, tempat pensil, dan peralatan lainnya. Aku memilih rute melewati jalan setapak di pinggir sungai.
Saat aku berjalan di pinggir sungai, suasana sehabis hujan jadi terasa menyegarkan. Ada padang rumput yang subur di sekeliling sungai itu. Setelah beberapa lama memandangi sambil berjalan, tak terasa aku sudah sampai di daerah sekitar sekolah ku. Aku teringat kalau aja jalan setapak di belakang sekolah menuju taman kota. Akupun melewati jalan tersebut. Saat aku berjalan di jalan setapak itu, aku melihat ada sebuah kardus kecil yang berisi tiga anak kucing yang basah kuyub karena kehujaan. Awalnya aku ingin memungutnya. Tapi aku teringat kalau di tempat tinggalku nggak oleh melihara hewan apapun. Jadi kuurungkan untuk memungutnya.
Beberapa menit kemudian aku pun sampai di taman kota. Karena di taman kota itu ada sebuah air mancur yang besar aku berniat untuk menggambanya. Tapi sungguh mengecewakan sekali. Air mancur itu kotor sekali. “mungkin karena habis hujan.” Pikirku. Aku mulai serasa lelah dan mencari tempat duduk untuk istirahat sebentar. Hampir semua bangku taman basah karena air hujan. Setelah kucari bangku yang lain hanya ada satu bangku yang kering. Tapi di sana ada seorang laki – laki seumuranku yang memakai jaket berwarna hitam ber-hoody sedang duduk dengan posisi tangan disilangkan di depan dadanya. Kaki kanannya di naikkan ke kaki kirinya. Kepalanya tertunduk.
“tidur ya?”pikirku.
Karena kupikir dia tidur, jadi kurasa nggak apa – apa kalau aku duduk di sebelahnya. Aku pun berusaha duduk tanpa suara. Saat aku baru saja duduk tiba – tiba dia berdiri dari duduknya dan langsung pergi. “orang ini aneh banget sih.” Batinku.
Aku pun nggak memikirkan orang itu dan melihat ke sekelilingku. Dan aku memulai untuk menggambar apapun yang ada di taman itu, seperti pohon, atau burung gereja yang sedang hinggap di ranting pohon yang sedikit rendah. Aku menggambarnya dengan menggunakan pensil ukuran HB untuk sketsa dan menggunakan pensil ukuran 6B untuk menebalkan sketsanya. Setelah selesai menggambar aku memutuskan pulang untuk memindah gambarku ke computer dan gambarku yang asli aku tempel di sebuah gabus yang kutaruh di tembok meja belajarku.
BAB 2
“Cuit……cuit……cuit……” terdengat suara burung berkicau dari luar jendela kamarku. Aku terbangun karena mendenger suara itu. Ternyata dari semalam aku tertidur di meja belajarku. Terasa agak sakit di bagian binggangku karena terlalu lama duduk di kursi belajar. Saat melihat jam ternyata sudah jam 06.30 pagi. Aku pun cepat – cepat menyiapkanpakaia seragam dan peralatan belajarku. Aku cepat – cepat berangkat ke sekolah karena sudah hempir terlambat. Tapi aku nggak lupa membawa buku gambarku.
Aku tiba di sekolah pukul 06.56 pagi. “untung masih ada 4 menit lagi..” kataku pelan. Nafasku terengah-engah karena habis berlari dari rumah sampai sekolah. Aku pun langsung berjalan menuju kelasku.
“Selamat pagi!” sapaku pada teman – teman sekelas. Tapi sayangnya nggak ada yang membalas salamku. Mereka semua nggak menyadari kedatanganku ke kelas itu. Aku nggak telalu mempermasalahkanya dan langsung duduk di tempat dudukku. Nggak lama kemudian bell tanda masuk sekolah berbunyi. “TENG….TENG….TENG….” guru – guru pun masuk kelas mereka untuk mengajar.
“yak. Anak – anak, hari ini kalian memiliki teman baru yang akan bergabung bersama kalian.” Kata guru kelas. “baik. Kamu boleh masuk sekarang.” Kata guru kelas pada murid baru itu.
Saat murid baru itu masuk ke kelas,hampir seluruh murid di kelasku ingin tertawa melihat penampilan murid itu. Dia seorang murid laki – laki, badannya cukup tinggi, dia memakai kacamata yang sangat tebal dan besar, rambutnya dimodel belah pinggir, memakai jaket berwarna hitam dan rambutnya diberi gel rambut yang sangat banyak hingga terlihat mengkilat. Kudengar dari gossip – gossip yang beredar kalau dia murid yang pintar bernama Lee Jae Young.
Saat melihatnya yang memakai jaket berwarna hitam aku langsung berfikir kalau dia orang yang kemarin ada di taman kota itu. “hahaha…. Ternyata orangnya seperti itu ya.. hihihi” tawaku dalam hati. Dia dapat tempat duduk di pojok belakang sebelah kanan papan tulis. Tempatnya sedikit gelap karena di tempat itu tepat sekali yang nggak ada jendelanya. Tempatnya agak jauh dari tempat dudukku. Aku duduk di kursi nomor dua dari belakang sebelah kiri papan tulis.
Dari posisi itu aku bisa melihatnya dengan jelas walaupun jaraknya agak jauh. Begitu dia duduk di tempatnya dia langsung mengeluarkan sebuah buku dan langsung membacanya dengan serius. “benar – benar orang yang aneh.” Batinku.
Tiga pelajaran hari sudah kulewatkan. Nggak terasa sudah waktunya pulang. Saat pulang aku memutuskan untuk melewati jalan setapak menuju sungai. Karena kukira pemandangan disana bagus di waktu langit senja, aku ingin melukisnya dulu sebelum pulang ke rumah.
Aku duduk di tanah yang menurun di pinggir sungai itu. Langit yang berwarna orange itu terlihat indah saat kulukiskan. Setelah selesai menggambar aku langsung berdiri dan berniat untuk pulang. Tanpa sadar aku memilih jalan memutar ke taman kota. Karena sudah terlanjur jadi kunikmati saja perjalanan pulang kali ini.
Saat tiba di taman kota, aku melihat seorang laki – laki yang kemarin kulihat di taman ini. Seorang laki – laki yang memakai jaket hitam ber-hoody sedang duduk di bangku taman degan posisi yang sama seperti waktu itu.
“apa benar itu Lee Jae Young?” pikirku dalam hati. Karena kupikir ini adalah kesempatan, jadi kuberanikan diri untuk menyapanya.
“apa kamu Lee Jae Young?” sapa ku padanya.
“……” dia diam saja. Bahkan mengangkat kepalanya yang tertunduk itu pun nggak mau. Kupikir dia tertidur, jadi kusentuh sedikit pundaknya sambil berusaha menapanya lagi.
“Lee Jae Young?” sapaku dengan nada lebih keras dari yang tadi.
“Aku bukan Lee Jae Young! Jadi sebaiknya kamu pergi aja. Mengganggu!” jawabnya tiba – tiba sambil mengangkat wajahnya yang tertunduk itu. Terlihat dengan jelas kalau dia nggak memakai kacamata, rambut nggak di belah pinggir. Dan yang satu lagi, dia sangat tampan. Aku nggak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Aku pun nggak pergi beranjak dari tempat itu.
Karena aku diam saja, dia yang memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tanpa bicara atau pun berpamitan. Dia pun juga nggak menunjukkan wajahnya lagi dan langsung pergi. Aku makin penasaran dengannya.
Karena saking penasarannya, aku berniat untuk menanyakan tentang ini ke Jae Young di sekolah.
“maaf, ada yang mau aku tanyain.” Kataku memulai pembicaraan.
“hem…” jawabnya santai tanpa melihatku tapi melihat buku yang dia baca.
“apa kamu pernah ke taman kota?” tanyaku lansung.
“nggak.” Jawabnya dengan singkat dan tegas.
“bohong. Kamu pasti sering ke sana dan duduk di bangku taman kan?” tanyaku memaksa.
Dia hanya melihatku tajam dengan kacamata tebalnya itu dan pergi begitu saja seakan – akan nggak suka aku tanya bagitu.
Tapi setelah ku pikir – pikir dia nggak mungkin setampan itu. Setelah berpikir seperti itu muncullah beberapa perbandingan di otakku.
- Jae Young memakai kacamata tebal
- Orang itu melihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat apapun
- Jae Young memiliki wajah yang sangat pintar
- Orang itu memiliki wajah yang sangat tampan (walaupun sedikit menyeramkan)
- Jae Young terlihat culun dengan penampilannya
- Orang itu terlihat sangat keren dengan penampilannya
Dan ada beberapa persamaan yang muncul di otakku.
- Jae Young memiliki badan yang tinggi
- Orang itu juga memiliki badan yang tinggi
- Jae Young memiliki postur tubuh yang bagus walaupun culun
- Orang itu memiliki postur yang bagus juga
- Kedua orang ini selalu memakai jaket hitam ber-hoody yang sama

Hari ini aku ingin pulang lebih cepat. Entah kenapa aku merasa kepalaku sedikit pusing. Ternyata Jae Young juga pulang lebh cepat, katanya ada urusan yang nggak bisa ditinggal.
Aparteman tempat tinggalku dekat dengan gedung – gedung perusahaan dan pertokoan. Jadi aku bisa melihat bermacam – macam gedung dari balkon tempat tinggalku. Di perempatan besar sebelum apartemen yang kutinggali ada dua gedung yang paling tinggi di daerahku. Yang pertama adalah gedung sebuah agency perusahaan yang menangani para aktris dan actor serta dunia perfilman, yang satu lagi adalah gedung sebuah agency perusahaan yang menangani para model yang menjalani pemotretan.
Saat aku melewati kedua gedung itu aku melihat ada seorang laki – laki berjaket hitam ber-hoody sedang bejalan menuju gedung agency pemotretan itu. Tanpa sadar aku langsung mengikutinya masuk ke dalam gedung itu. Dia melewati meja reseptionis. Tapi sayangnya aku nggak boleh masuk ke sana kalau belum ada janji. Hanya sampai sana saja aku mengikutinya. Aku pun kembali menuju jalan pulang ke rumahku.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamarku. Aku menggantung tasku di samping meja belajarku. Lalu aku mengganti baju seragamku dengan baju rumahan dan langsung merebahkan diri di kasur. Saat itu aku jadi ingin menggambar sesuatu. Jadi aku membuka jendela kamarku untuk mencari objek yang akan kugambar. Ternyata dari jendela kamarku gedung – gedung itu terihat sangat jelas. Jadi gedung – gedung itu kujadikan objek gambarku. Aku memilih gedung agency pemotretan itu. Aku memiilihnya karena saat malam hari gedung itu sangat di kelilingi oleh lampu-lampu yang indah.
BAB 3
Saat di sekolah aku diberitahukan oleh temanku kalau aku dipanggil ke ruang guru untuk menemui guru kelasku.
“ada apa pak?” tanyaku padanya.
“bapak mau membicarakan masalah nilaimu.” Jawab pak guru.
“ada apa dengan nilai saya pak?” tanyaku lebih lanjut.
“mau kamu apakan nilaimu ini? Kenapa nilaimu bisa jadi kayak gini?”
Saat aku melihat berapa nilaiku, teryata nilaiku memang minim. Aku memang kurang belajar akhir – akhir ini. Kata guru kelasku nanti siang pada jam yang sudah di tentukan aku harus belajar bersama dengan salah satu siswa sekolah ini di perpustakaan sekolah. Katanya kalau ada soal yang nggak aku mengerti aku boleh bertanya padanya. Anak itu pun sudah menyetujuinya. Jadi mau nggak mau aku harus menemuinya.
Aku berjalan menuju perpustakaan sekolah. Rasanya aku sedikit malu untuk datang ke sana. Saat aku sudah sampai di dalam perpustakaan aku mencari siswa yang di beri tahukan cirri – cirinya oleh pak guru. Dia memakai kemeja berwarna putih dan memakai kacamata tebal.
Saat mengetahui ciri-cirinya aku langsung tahu siapa yang akan jadi pembimbingku. Lee Jae Young. Aku nggak tahu harus bicara apa dengannya.
“permisi. Kata pak…”belum sempat aku menyelesaikan perkataanku.
“kita langsung aja belajar mana yang nggak kamu bisa. Kalau ada yang nggak mengerti tanyakan padaku.” Katanya yang memotong perkataanku tanpa memandangku tapi malah memandang buku yang ia baca.
Setelah beberapa menit kami nggak saling bicara. Sebenarnya ada satu soal yang nggak aku mengerti tapi aku malu untuk menanyakannya. Tiba – tiba aku dikagetkan olehnya.
“ada mau ditanyain? Kalau mau nanya jangan malu – malu.” tanyanya yang tetap menatap buku sambil menaikkan kacamatanya. Dia bertanya sepeti itu seakan – akan dia bisa membaca pikiranku. Dan akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya padanya.
Dia menjelaskan panjang lebar apa yang kubisa. Bahkan dia sampai mau mengajarkanku berkali – kali kalau aku masih belum mengerti. Baru kali ini aku menganggap dia baik.
Setelah kami selesai belajar dia langsung bediri berniat langsung pulang lebih dulu. Saat aku ingin pulang aku melihat jaket milik Jae Young yang tertinggal di kursi. Warnanya hitam, sama seperti sebelumnya. Aku berniat untuk mengembalikannya besok. Tapi aku baru ingat kalau besok hari Sabtu.

Aku jadi teringat tentang dua orang itu. Aku pun jadi ingin pergi ke taman kota itu lagi. Saat aku melihat di persimpangan dekat gedung agency itu berdiri seperti seseorang yang aku kenal. Ternyata benar apa yang kulihat itu adalah Jae Young. Dia memakai baju kemeja putih yang sama dengan yang ia pakai tadi
“ngapain dia di situ? Mau apa?” tanyaku dalam hati. Karena waktu itu aku nggak berhasil mengikutinya aku pun akhirnya melakukannya untuk keduakalinya.
Saat aku mengikutinya masuk ke dalam gedung itu tiba – tiba saja dia menghilang dari pengelihatanku. “Jalannya cepet banget” kataku pelan.
“ada yang bisa saya bantu?” tanya seseorang dari belakangku.
“ah?” kataku. Dia memakai baju yang sama dengan apa yang dipakai oleh Jae Young. Tapi sayangnya dia bukan Jae Young. Melainkan salah satu Crew_asistant photografer dari agency pemotretan itu. Aku berfikir panjang.
“ehm… aku ke sini hanya ingin tahu seperti apa pemotretan di sini.” Jawabku dengan alasan.
“oh.. baiklah. Mari aku antar.” Katanya dengan baik hati.
Aku diajaknya mengelilingi gedung agency itu. Dari semua ruangan yang sudah kukunjungi, ada satu ruangan yang belum aku kunjungi. Pintunya berwarna hitam. Berbeda dari pintu – pintu yag lain berwarna putih.
“bolehkan aku masuk ke ruangan itu?” tanyaku pada assistant itu.
“boleh aja. Tapi kamu nggak boleh berisik.” Jawabnya.
“kenapa?”
“karena sang photographer yang ada di ruangan itu sangat sensitive dan sangat nggak mau di ganggu.” Jelasnya padaku.
Aku pun menuruti apa yang dia katakan. Aku membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Saat aku masuk ke dalam ruangan itu, rata – rata yang kulihat hanya warna tembok yang berwarna hitam, dan lampu yang berwarna kuning agak ke orange. Yang nggak berwarna hitam hanyalah background-nya saja.
Aku melihat satu orang model sedang di ambil fotonya. Dan satu orang photographer yang sedang mengamil gambarnya. Betapa kagetnya aku saat melihat sang photographer itu adalah seorang laki – laki yang kutemui di taman kota itu. Tapi kali ini dia nggak memakai jaket hitam itu. Kali ini dia hanya memakai kemeja yang sederhana tapi tetap saja warna kemeja itu hitam.
Karena takut memngganggu aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.

BAB 4
Hari ini aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku kira di kelasku masih kosong dan hanya ada aku saja. Tapi ternyata ada seorang siswa yang tertidur di kelas itu. Dia duduk di bangku milik Jae Young. Jadi kupikir itu adalah Jae Young. Awalnya kudiamkan saja dia tidur seperti itu. Tapi lama-kelamaan aku mendengar sepertinya dia sedang mengigau. Jadi aku berniat untuk membangunkannya.
Saat aku ingin membangunkanya, aku malah dibuatnya kaget dengan bangun secara tiba – tiba. Dia nggak memakai kacamata yang biasa dia pakai. “sepertinya aku pernah liat mukanya. Tapi siapa?” pikirku bertanya-tanya.
“ah! Maaf!” katanya saat terbangun dan langsung memakai kacamatanya lalu pergi keluar kelas.
“ah lupakan saja. Lagi pula aku juga nggak ingat siapa yang mirip dengannya.” Kataku dalam hati.
Sampai menjelang pelajaran terakhir pun Jae Young belum kembali.
“apa dia di UKS ya? Dia bolos ya.” Batinku.
Akhirnya sampai bel pulang pun dia benar – benar nggak kembali ke kelas. Aku menyusulnya ke UKS. Tapi aku nggak menemukan siapa – siapa di UKS itu. Guru Uks pun nggak ada. Karena kupikir dia mungkin sudah pulang jadi aku juga berniat untuk pulang.
Saat aku di jalan menuju pulang aku jadi berkeinginan untuk mampir dulu ke gedung agency itu. Saat aku berada di lobby gedung aku berpapasan dengan seorang yang kutemui di taman kota itu. Dia nggak berpenampilan seperti biasanya. Dia memakai baju yang bermerk, sepatu boots mahal, dan rambutnya di model dan di cat. Seperti seorang model saja.
Saat melihatnya aku jadi reflex untuk menarik tangannya.
“maaf, ada yang bisa saya bantu” tanyanya padaku saat kutarik lengannya.
“ah! Maaf! Maafkan aku! Aku benar – benar nggak sengaja.” Kataku sambil membungkukkan badan
“haha.. mana mugkin kamu nggak sengaja. Tadi terasa erat sekali kamu menarik lenganku. Kamu ada perlu denganku? Ngomong aja.” Katanya dengan ramah.
“sepertinya dia orang yang baik.” Kataku dalam hati.
Dia mengajakku ngobrol sambil minum teh di restaurant di gedung itu. Aku menanyakan macam – macam. Ternyata dia adalah salah satu model tetap di agency ini. Dia pernah belajar tentang photography dengan salah satu saudara jauhnya, jadi terkadang kalau dia sedang nggak ada jadwal pemotretan dia mengisinya dengan membantu para photographer lain.

Makin lama aku merasa nyaman ngobrol denganya. Dan semakin sering aku bertemu dengan sang model itu. Kurasa aku sekarang menyukai model yang bernama Lee Seung Ji itu. Kami bertukar nomor telephone dan alamat email. Saat pergi keluar besama dia sering mentraktirku. Aku sering menjadikannya sebagai model gambarku. Tadinya aku menjalaninya dengan perasaan senang. Tapi sekarang ada yang mengganjal peasaanku.
Dia semakin terasa menjauh dan jika di hubungi dia selalu bilang ada bnyak acara dan ada urusan keluarga. Yang paling membuatku nggak tenang adalah saat aku sedang pergi keluar untuk mencari object gambar aku melihatnya sedang minum teh bersama salah satu model wanita dari salah satu agency model yang lain. Semenjak itu dia sama sekali nggak pernah menghubungi nomorku atau pun megirim email.
Suatu hari saat aku keluar untuk menggambar, aku melihat Jae Young sedang berbicara empat mata dengan Seung Ji di restaurant gedung agency. Tadinya aku ingin menghampiri mereka berdua tapi setelah kupikir – pikir untuk apa aku tahu masalah mereka. Tapi aku makin penasaran dengan mereka. Sebenarnya apa hubungan mereka. Apakah kakak beradik atau saudara.
Aku hanya bisa melihat mereka dari jauh saja. Tiba – tiba pertengkaran terjadi di antara mereka berdua. Jae Young mencengkram kerah baju Seung Ji. Seung Ji yang juga marah saat itu langsung memukul Jae Young. Mereka berdua akhirnya dipisahkan oleh salah satu pegawai. Dan pertengkaran mereka pun berakhir. Jae Young pun mengalah dan pergi meninggalkan gedung itu.
Aku nggak tahu apa permasalahan mereka. Aku pun pulang untuk menenangkan diri karena kaget melihat pertengkaran itu. Saat kurebahkan diri di kasur mataku langsung tertuju pada jaket hitam yang tergantung di pintu. Aku pun mengambil jaket itu dan berniat untuk segera mengembalikannya pada Jae Young.
Aku bingung kemana aku harus mengembalikan jaket ini.
“aku bahkan nggak tahu di mana rumahnya. Terus buat apa aku berjalan mencarinya?” gumamku.
Saat aku berjalan melawati taman kota, aku jadi teringat dengan Seung Ji yang sering tidur di bangku taman itu. Tanpa sadar aku pun menghampiri tempat itu. Pada saat itu yang kulihat bukanlah Seung Ji yang tertidur. Melainkan Jae Young yang sedang duduk membungkuk ke depan sambil mengusapkan lengannya ke pinggir mulutnya untuk menghapus darah yang keluar akibat pukulan Seung Ji.
Entah kenapa aku hanya diam di tempat dan hanya melihatnya dari jarak yang agak jauh. Penampilannya masih seperti biasa. Tapi beberapa saat kemudian setelah aku melihatnya agak lama dengan posisi yang sama. Tiba – tiba dia melepaskan kacamata tebal yang dia pakai. Wajahnya terlihat mirip dengan Seung Ji. Aku benar – benar nggak bisa berkutik dari tempatku karena kaget saat melihat dia mengacak – acak rambutnya yang klimis itu menjadi model rambut yang agak acak-acakan. Wajahnya sama persis dengan Seung Ji.
BAB 5
“siapa sebenarnya mereka?”tanyaku dalam hati.
Saking kagetnya dengan apa yang kulihat barusan, nggak sengaja aku menjatuhkan jeket hitam yang awalnya ingin kukembalikan ke Jae Young dan menimbulkan suara. Jae Young mendengar suara itu. Aku pun dengan spontan melarikan diri dari tempat itu.
Sepertinya Jae Young megejarku.
“Rae Yoo!! Tunggu!” teriak Jae Young padaku yang sedang berlari.
Jae Young berlari lebih cepat dariku. Dia menarik lenganku. Dia nggak berkata apa – apa. Dia hanya meliatku tajam. Yang kudengar hanya suara nafas yang naik turun karena habis berlari. Dan akhirnya dia bicara.
“kenapa kamu lari?!” tanya Jae Young padaku. Aku hanya tertunduk diam. Aku juga nggak tahu kenapa tadi aku berlari.
“maaf. Mungkin kamu kaget dengan penampilanku yag sekarang kamu liat ini.” Kata Jae Young.
Setelah aku tenang dia mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebenarnya Jae Young dan Seung Ji adalah saudara kembar yang sudah lama perpisah karena kedua orang tua mereka bererai. Karena masalah keluarga mereka yang tadinya sangat akur jadi makin lama semakin bertolak belakang masalah pendapat.
Jae Young dan Seung Ji yang tadinya memiliki cita –cita yang sama yaitu menjadi seorang photographer yang hebt dan dikenal oleh banyak orang, jadi saling berselisih jalan. Karena Jae Young lebih berbakat, Seung Ji pun berfikir kalau dia harus lebih hebat lagi. Seung Ji pun meninggalkan cita – citanya untuk menjadi seorang photographer. Sekarang dia memutuskan untuk menjadi seorang model yang professional.
Jae Young yang tetap ingin mewujudkan impiannya it uterus menjadi seorang photographer. Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut mendengar cerita Jae Young. Ada satu hal yang membuat mera sependapat. Ternyata sudah sejak lama mereka berdua menyukaiku.
Kejadian pertama yaitu saat aku melihat seorang laki – laki yang memakai jaket berwarna hitam sedang tertidur di bangku taman ini. Laki – laki itu adalah Jae Young. Kejadian Kedua yaitu saat aku ingin memastikan kalau itu adalah Jae Young. Ternyata laki – laki itu adalah Seung Ji. Semenjak saat itu mereka menyukaiku pada pandanga pertama.
Dan kejadian berikutnya adalah saat aku berkeliling gedung agency. Saat aku masuk ke ruangan pemotretan yang berwarna hitam itu. Sang photographer itu adalah Seung Ji yag sedang menggantikan Jae Young karena Jae Young sedang mengajariku di perpustakaan waktu itu.
Saat aku menarik lengan Seung Ji ternyata sebenarnya pada saat itu orang yag kutarik lengannya itu adalah Jae Young yang sedang menggantikan Seung Ji menjadi model karena Seung Ji ada sebuah pertemuan dengan salah satu model dari agency lain. Dan Jae Young lah yang memberikan nomor HP Seung Ji dan alamat email Seung ji.
Karena Seung Ji nggak tahu bagaimana sikap Jae Young padaku pada saat itu, jadi dia mengabaikan telephoneku dan emailku. Dia malah pergi ke pertemuan dengan model wanita dari agency lain itu. Waktu itu sebenarnya Jae Young sudah sempat member tahu Seung Ji mengenai hal itu. Tapi karena sikap Seung Ji yang terlalu santai, malah membuat Jae Young maah dan kesal. Dan terjadilah pertengkaran di restaurant waktu itu.
Aku teringat satu hal yang ingin dari dulu kutanyakan padanya.
“kenapa kalian selalu memakai jaket hitam ber-hoody yang sama?” tanyaku pada Jae Young.
“bukan kalian. Tapi aku. Aku yang selalu memakai jaket hitam ber-hoody itu.”jawab Jae Young.
“maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“sebenarnya Seung Ji yang ingin menjadi model seperti sekarang nggak ingin orang tuanya yang sekarang mengetahui bahwa dia sebenarnya mempunyai kakak kembar yang sudah mengambil cita –citanya yang dulu.” Jawab Jae Young.
“orang tuanya yang sekarang?” tanyaku lagi.
“iya. Dia ikut dengan ayah. Dan ayahku menikah lagi. Tapi nggak lama setelah itu ayah meninggal karena sebuah penyakit. Jadi ibunya menikah lagi. Dan kedua orang tuanya yang sekarang nggak mengetahui satu persoalan pun tentangku. Karena aku nggak mau Seung Ji kecewa padaku lebih dari ini. Aku ingin menghilang dari hidupnya. Tapi ternyata malah dia yang jadi modelku. Jadi kuputuskan untuk menutupi wajar serta diriku dari penglihatan public yang seorang kakak kembar dari Lee Seung Ji” Jelasnya.
Aku hanya diam mendengarkannya menjelaskan. Tapi semakin lama aku jadi semakin tertarik dengan seorang Lee Jae Young yang berusaha menutupi dirinya dan berusaha untuk nggak membuat adiknya kecewa lebih dalam lagi.
Waktu semakin berlalu. Tanpa terasa aku semakin sering bersama Jae Young untuk menemaninya dari kesendirian seorang photographer yang mysterious dan sebagai seorang kakak kembar dengan banyak kerahasiaan.
Dan aku pun sering menjadikanku sebagai object gambar saat sedang memotret dengan jaket hitamnya itu. Dan beberapa kali kuikuti lomba menggambar dan memdapatkan juara pertama dengan menggunakan gambar dirinya dan memberikan gambar itu dengan judul photographer with his black jacket.